Jumat, 11 Desember 2009

BEBAN YANG SUBYEKTIF !!!


Kebo itu ternyata menyandang beban berat  dipunggungnya,yaitu gembala dan serulingnya.

Sang gembala dengan bobot lebih dari setengah kuintal, jelas merupakan "beban" yang amat berpengaruh terhadap konsisi fisik kebo. Serulingnya yang mendayu-dayu, ternyata tak sedap didengarnya. Membuat perasaan sang kebo menjadi ciut, pesimis, frustasi, nyali mengecil dan hampir putus asa.

Bunyi seruling memang indah, namun tidak memberikan semangat, bahkan mengerdilkan ambisi dan obsesi. Sehingga ada beban ganda yang disandang sang kebo, dua-duanya berat dan menekan, namun sang kebo tidak punya pilihan.

Ada jutaan kebo yang mengalami nasib serupa, bahkan ratusan juta manusia mengalami kondisi yang sama. Senada dan seirama dengan sang kebo, bahkan dengan beban yang jauh lebih berat. Ternyata sebagian dari beban itu hanyalah subyektif. Beban seperti ada padahal tidak ada, yang tampak namun sebenarnya tiada.  Ratusan juta (atau milyar ???) manusia dihantui beban berat. Lantas apa saja beban yang subyektif itu ?

Seorang lelaki sedang berjalan dimalam hari yang hitam pekat, tiada berbintang. Jantungnya mulai berdebar kencang. Ada apa gerangan ? Ternyata tempat yang dilaluinya ialah kuburan tua yang dianggap angker. Hal itu membuat langkahnya menjadi sangat berat, seolah sedang menyeret berkarung-karung beban. Nah, itulah salah satu contoh beban yang subyektif.

Wahhh Pak Gaok itu mengerikan, membuat orang merinding ketakutan sampai kedinginan. Kenapa dengan Pak Gaok ini ? Ternyata modalnya hanya memasang tampang bengis, bicaranya kencang, tajam dan nyelekit.  Kalau Pak Gaok ngomong, suaranya selalu dikencangkan, mukanya dipasang "sadis". Mungkin agar lawan bicaranya merasa kalah sebelum bertanding. Ya, bagi Pak Gaok segala bentuk interaksi sosial dianggapnya sebagai game yang harus dimenangkan. Ternyata hampir setiap orang yang terpaksa berhadapan dengan Pak Gaok, seolah menyandang beban. Padahal semua itu subyektif. Pak Gaok manusia biasa juga, yang tak mungkin  menerkam.

Lalu bagaimana upaya untuk mengatasi perasaan dan pikiran yang cenderung subyektif tersebut , sebagaimana contoh di atas, dan masih banyak contoh kasus lainnya.  Langkah pertama, tentu saja harus memiliki kacamata obyektif, pikiran atau opini yang positif dan mental atau perasaan  yang sehat. Jika sudah memiliki perangkat tersebut, tentu saja kondisi lingkungan yang mencekam dan orang yang menakutkan hanya dianggap sebagai dinamika kehidupan.

Orang berperangai buruk hanyalah orang yang berperilaku abnormal, a sosial atau sedang menyandang persoalan psikologis. Dia butuh pertolongan, bahkan terapi. Sikap dan perilaku menyimpangnya tidak perlu ditanggapi secara serius.  Dalam hal ini, orang yang normal dan sehat tidak akan memilih bersikap frontal melawan orang yang abnormal dan kurang sehat.

Sikap bijak dalam menghadapi situasi dan persoalan yang subyektif, akan mempertahankan perasaan dan pikiran dalam kondisi yang stabil dan terbuka. Inilah pangkal kehidupan yang sehat, mengurai beragam persoalan dengan kacamata dan paradigma yang obyektif . (Atep Afia)

Kamis, 05 Februari 2009

PROAKTIF DENGAN HATI


Seandainya
Pak Kipli, seorang pasien di RS Jantung Harapan Kota, mengeluh karena akibat dari kinerja jantungnya yang makin melemah, terasa menyiksa seluruh tubuhnya, “Ya, seandainya saya rajin berolahraga, seandainya saya tidak merokok, seandainya saya mengurangi makanan berlemak, mungkin sore hari begini sedang bercengkrama beserta anak dan istri, atau sedang menikmati secangkir teh panas diteras rumah sambil membaca koran sore”. Di sela-sela nafasnya yang berat dan tersengal, kata seandainya terus meluncur dari benak Pak Kipli. Isinya adalah penyesalan, kenapa dirinya membiarkan “monster” sakit jantung datang menghampirinya.

Kenapa dirinya tidak proaktif. Di sebuah ruang kerja yang cukup representatif, Pak Saprol, seorang direktur PT Angin Ribut, seperti dihinggapi depresi berat. Ekspresi wajahnya menggambarkan hal itu, “Seandainya saya mengubah strategi pemasaran, tentu perusahaan tidak akan pailit seperti sekarang. Seandainya saya lebih memperhatikan keinginan konsumen, tentu angka penjualan tidak semelorot sekarang……”.

Hampir senada dengan kisah Pak Kipli, kondisi yang dihadapi Pak Saprol tak lain akibat kurang sigap dalam mengambil tindakan, akibat tidak proatif. Contoh kisah lainnya, Mulan Kwek, seorang mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Cing Gobang Gocir, sedang termenung dikamar pribadi yang merangkap ruang belajarnya, matanya berkaca-kaca, mukanya memerah, “Seandainya saya rajin belajar, tentu surat peringatan DO tidak akan diterima. Seandainya saya mengerjakan tugas dari dosen dengan baik, tentu tidak akan membuat orangtua kecewa……….” Kata seandainya sering meluncur dari mulut orang yang menyesali sesuatu, baik penyesalan yang ringan atau yang berat.

Salah satu ciri orang yang termasuk kelompok pasivasionis atau propasif ialah banyaknya kata seandainya yang diucapkannya. Kelompok orang yang demikian selalu dalam kondisi akan berbuat, tetapi tidak pernah berbuat. Penuh rencana dan gagasan, kebiasaannya sebelum mengambil tindakan selalu menunggu hingga segalanya 100 persen menguntungkan atau serba kondusif, sehingga tindakannya pun tidak pernah terwujud. Untuk mengilustrasikan hal itu, simaklah cerita berikut: Ada sepuluh anak yang sedang belajar berenang, berdiri di pinggiran kolam. Kemudian empat anak di antaranya merencanakan nyebur ke kolam. Muncul pertanyaan, berapa jumlah anak yang masih berdiri di pinggiran kolam ?

Formula Proaktif

Pergerakan yang dinamis, itulah kalimat kunci yang menggambarkan berbagai fenomena kehidupan. Detak jantung manusia, gerakan kation dan anion mengelilingi inti atom, rotasi bumi dan planet lain mengitari matahari, bahkan bumi pun selalu berputar pada sumbunya dengan kecepatan tertentu. Tak ada yang diam, semuanya selalu bergerak. Diamnya gerak jantung berarti kematian, berhentinya rotasi bumi berarti kiamat. Dengan demikian, pada prinsipnya kehidupan tidak mengenal statis, tidak mungkin dijalani dengan pasif. Perlu ada gerakan terus-menerus, diharuskan mengambil tindakan setiap saat. Berhentinya gerakan dan tindakan berarti “mati” sebelum waktunya.

Kehidupan memang perlu dijalani dengan proaktif. Kalau saat ini kita melihat ada pribadi-pribadi sukses, ada organisasi-organisasi bisnis yang mapan, bahkan ada negara-negara yang kuat, tak lain merupakan produk dan akumulasi dari langkah-langkah proaktif. Sebaliknya banyak ditemukan adanya pribadi-pribadi terpuruk, organisasi bisnis yang ambruk, bahkan negara yang bangkrut, tak lain merupakan produk dan akumulasi dari langkah-langkah propasif. Bermula dari perosalan yang datang satu persatu atau bertubi-tubi, namun tidak ada langkah sistematis untuk penyelesaiannya.

Kalaupun ada langkah yang ditempuh, hanya sebatas rencana atau retorika, tidak berupa tindakan. Maka perlahan tapi pasti keterpurukan, keambrukan dan kebangkrutan datang menghampiri. Sekitar 14 abad yang lalu, Nabi Muhammad SAW sudah memperingatkan: “Manfaatkan sebaik-baiknya lima kesempatan, sebelum (datang) yang lima; masa muda sebelum datang masa tua Anda; kondisi sehat sebelum Anda jatuh sakit; saat kaya sebelum Anda jatuh miskin; masa hidup sebelum datang kematian anda; dan masa senggang sebelum Anda sibuk”.

Jika kita cermati, formula proaktif dari Nabi Muhammad SAW merupakan kunci untuk mensiasati kehidupan yang serba dinamis. Kondisi A yang terdiri dari usia muda, kondisi sehat, saat kaya, masa hidup dan masa senggang adalah modal utama untuk meraih kesuksesan hidup. Maka potensi tersebut harus direncanakan dan digarap secara “profesional”, jangan pernah disia-siakan. Sebab kondisi A sewaktu-waktu atau kapanpun bisa segera berubah menjadi kondisi B dengan ciri usia tua, kondisi sakit, jatuh miskin, kondisi sibuk dan datangnya kamatian.

Eksplorasi secara proaktif kondisi A sebelum tibanya kondisi B. Dalam hal ini Schwartz (1996), merumuskan cara untuk menumbuhkan kebiasaan bertindak atau proaktif:
1. Jadilah “aktivasionis“. Jadilah orang yang berbuat. Jadilah pelaksana, bukan sebaliknya.
2. Jangan menunggu hingga keadaannya sempurna karena itu tidak akan pernah terjadi.
3. Ingat, gagasan saja tidak akan memberikan keberhasilan. Gagasan mempunyai nilai hanya jika Anda melaksanakannya.
4. Gunakan tindakan untuk menghilangkan ketakutan dan mendapatkan kepercayaan diri. Kerjakan apa yang Anda takutkan dan ketakutan pun menghilang. Coba dan lihat hasilnya.
5. Mulai mesin mental Anda secara mekanis. Jangan menunggu hingga jiwa` Anda menggerakkan Anda. Ambil tindakan, galilah, dan Anda menggerakkan jiwa Anda.
6. Berpikirlah dalam pengertian sekarang. Besok, minggu depan, nanti dan kata-kata serupa kerap merupakan sinonim dari kata kegagalan tidak pernah.
7. Segeralah bertindak. Jangan membuang-buang waktu menyiapkan diri untuk bertindak. Mulailah bertindak.
8. Ambil inisiatif. Jadilah pelopor. Ambillah insiatif dan laksanakan. Jadilah sukarelawan. Perlihatkan bahwa Anda mempunyai kemampuan dan ambisi untuk berbuat.

3. Model Proaktif

Kehidupan begitu dinamis, penuh dengan gerakan yang pasti. Semua langkah mengacu ke depan, setapak demi setapak, hingga akhirnya tiba di tempat singgah. Tidak ada yang tanpa makna, meski kebermaknaan tersebut tidak selalu positif. Rangkaian peristiwa dalam kehidupan adalah untaian makna, baik itu yang bersifat positif atau negatif. Adakah makna yang nol, tidak bernilai atau bebas point. Ternyata tidak ada, karena kehidupan tak pernah mengenal statif. Selalu berjalan, bergerak, berdetak tak pernah henti. Dalam diam pun selalu ada yang bergerak. Statif, pasif, diam atau dorman berarti kebermaknaan negatif, bukan nol.

Ada diam emas, maksudnya dalam diamnya fisik terdapat gelora jiwa yang bergerak positif, mengungkap kebermaknaan hidup atau kehidupan bermakna. Ada gerak emas, maksudnya dalam pergerakan sejalan kehidupan ada setumpuk makna positif yang di raih.
Untuk diam emas dan gerak emas perlu proaktif, karena keduanya merupakan produk dari pilihan sadar. Diam emas dan gerak emas adalah perilaku, yang terwujud karena kemampuan untuk memilih respons.

Teori model proaktif dari Covey (1994) menyatakan, bahwa proaktivitas adalah kebebasan untuk memilih stimulus tertentu untuk menjadi respons tertentu, sehingga menghasilkan kesadaran diri, imajinasi, suara hati dan kehendak bebas tertentu. Selanjutnya dikemukakan, bahwa orang yang proaktif tetap dipengaruhi oleh stimulus luar, entah fisik, sosial atau psikologis. Namun respons mereka terhadap stimulus tersebut, sadar atau tidak sadar, didasarkan pada pilihan atau respons yang berdasar nilai. Pribadi yang proaktif bukan hanya dapat dilihat dari tindakannya, tetapi juga dari bahasanya. Perhatikan tabel berikut:

Bahasa yang Proaktif
Mari kita lihat alternatif yang kita miliki
Saya dapat memilih pendekatan yang berbeda
Saya mengendalikan perasaan saya sendiri
Saya dapat menghasilkan presentasi yang efektif
Saya akan memilih respons yang sesuai
Saya memilih
Saya lebih suka
Saya akan

Bahasa yang Propasif/Reaktif
Tidak ada yang dapat saya lakukan
Memang sudah begitulah saya
Ia membuatku begitu marah
Mereka tidak akan mengijinkan itu
Saya terpaksa melakukan itu
Saya tidak bisa
Saya harus
Seandainya saja

Sumber : Covey (1994)

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa pribadi yang proaktif ditandai dengan gaya bahasa yang juga proaktif. Saran aplikasi dari Covey: selama satu hari penuh, dengarkanlah bahasa anda dan bahasa orang-orang di sekitar anda. Berapa sering anda menggunakan dan mendengar frasa-frasa reaktif seperti “Seandainya saja”, “Saya tidak bisa”, atau “Saya harus” ? Untuk berubah menjadi pribadi yang proaktif minimalis, artinya perubahannya relatif kecil, kita dapat berfokus secara tepat pada pada perilaku dan sikap kita.

Tetapi jika ingin menjadi pribadi yang proaktif maksimalis, artinya berhasil membuat perubahan kuantum (perubahan mendadak dan ekstensif) yang bermakna, kita perlu memperbaiki paradigma dasar kita. Menurut Covey, paradigma tidak lain merupakan realitas subyektif; hanya sebuah upaya untuk menjabarkan wilayah atau prinsip-prinsip. Sedangkan realitas obyektif merupakan wilayah atau prinsip-prinsip itu sendiri, merupakan bagian dari agama yang besar dan abadi, juga filosofi sosial dan sistem etika yang abadi, merupakan bagian dari kondisi, kesadaran dan suara hati manusia.

Model proaktif maksimalis perlu mengacu pada paradigma dasar. Bagi seorang muslim, paradigma dasar itu ada pada kalimat : “Inna shalati wa nusuki wa mah yaya wa mamati liilahirobbil alamin”, yang berarti “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidup dan matiku adalah untuk Allah, Tuhan semesta alam“. Dengan demikian, seluruh gagasan dan tindakan, seluruh langkah proaktif sepenuhnya ditujukan untuk Allah SWT. Maka seluruh langkah proaktif dalam 24 jam, sepanjang hayat dikandung badan harus diawali: “Bismillaahirrahmaanirrahiim”, yang artinya: “Dengan nama Allah yang maha pengasih dan maha penyayang“. (Atep Afia)


Referensi : Covey, S.R. (1994). Tujuh Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif Terjemahan). Binarupa Aksara. Jakarta.
Nawawi, M. (2005). Nasehat Buat Hamba Allah (Terjemahan). Amelia. Surabaya.
Schwartz, D.J. (1996). Berpikir dan Berjiwa Besar (Terjemahan). Binarupa Aksara. Jakarta.

Copyright @ 2006 Atep Afia Hidayat. Silahkan sebar luaskan tulisan ini untuk kebaikan, dengan tetap mencantumkan sumbernya.

HATI-HATI DENGAN HATI


Sebenarnya inti kehidupan manusia ada pada hati, yang aktivitasnya dinamakan perasaan. Hati itu sangat sensitif sehingga perasaan selalu berfluktuasi, kadang-kadang bergejolak. Misalnya dalam interaksi sepasang manusia, pada suatu saat diwarnai perasaan positif, saling menghargai dan saling menyayangi. Tiba-tiba mengalami perubahan 180 derajat karena suatu sebab, maka timbulah perasaan negatif, marah dan ingin menyakiti. Hal tersebut bisa terjadi pada siapapun, dalam kondisi bagaimanapun. Tak heran jika kasus peceraian keluarga sering terjadi, begitu pula bubarnya persahabatan, bahkan perang antar negara. Sebenarnya beragam konflik itu bisa diselesaikan. Caranya dengan menetralisir kondisi hati ke titik nol, titik tanpa prasangka, dengan penuh maaf lantas hati saling berpelukan. Oleh sebab itu, jagalah hati jangan kau nodai…… (Atep Afia)

MENJAGA PERASAAN

Perasaan itu produk atau aktivitas hati, ada juga yang menyebutnya sebagai qolbu. Perasaan itu begitu peka, teramat sensitif, apa saja yang terlintas dan direspons panca indra maka dengan sendirinya akan terkoneksi dengan perasaan. Begitu pentingnya perasaan, maka ada orang yang menyatakan bahwa berperasaan positif jauh lebih penting dari berpikir positif. Bagaimana supaya perasaan selalu nyaman, maka harus selalu dijaga, jangan dibiarkan “bergentayangan”, menerima pengaruh apapun dan dari siapapun. Menjaga perasaan ialah bagaimana memfokuskan perasaan kepada satu titik, satu tujuan. Dan yang menjadi tujuan atau fokus itu hanyalah Allah SWT, Tuhan Semesta Alam. (Atep Afia)

HARI-HARI YANG HEBAT

Bersyukur kepada Allah, itulah yang harus kita lakukan setiap detik, setiap saat, karena berkah dan anugerahnya dalam hari-hari kehidupan kita luar biasa, begitu hebat. Tarikan nafas kita yang menarik oksigen melalui paru-paru dan disalurkan ke seluruh sel tubuh, begitu dahsyat, sehingga segenap organ bisa berfungsi dengan baik. Makanan yang tersaji setiap saat, tinggal kita makan, prosesnya sederhana tinggal ambil dengan tangan masukan ke mulut, setelah itu berbagai proses yang rumit akan berjalan, metabolisme atau biokimia akan berlangsung memecah dan menyusun zat yang dibutuhkan setiap sel. Begitu hebat, kekuasaan Allah meliputi semuanya, baik yang makrokosmos atau yang mikrokosmos. Dan kita harus bersyukur, masih diberi kepercayaan mengelola salah satu planet di alam semesta ini, Planet Bumi.(Atep Afia)

Senin, 26 Januari 2009

DEKAT DENGAN ALLAH


Manusia adalah mahluk yang diciptakan Allah. Proses pertumbuhan dan perkembangan manusia bermula dari sel-sel yang berasal dari ayah dan ibu, kemudian berkolaborasi dan mengendap dalam rahim ibu, setelah mengalami kematangan dalam 9 bulan, maka terjadilah kepindahan manusia baru, dari alam rahim kealam dunia. Semua proses berlangsung adalah atas kehendak Allah, Tuhan pencipta seluruh alam semesta,

Ketika terjadi transisi dari alam rahim ke alam dunia, maka bagi setiap bayi yang baru lahir harus diperdengarkan adzan. Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar Allahu akbar, ….. Allah maha besar, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mari kita shalat, mari kita menuju kemenangan, Allah maha besar, tidak ada Tuhan selain Allah. Itulah pernyataan awal bagi seorang manusia yang baru lahir. Pesannya bahwa menjalani hidup harus berfokus kepada Allah, Tuhan yang maha besar, Tuhan yang esa, yang begitu dekat dengan manusia,

Faktanya manusia begitu dekat dengan Tuhannya. Tubuh, pikiran dan hati manusia ada dalam genggalam Allah. Seluruh proses metabolisme tubuh manusia adalah merupakan kreasi Allah. Begitu pula hati manusia selalu mendapat inspirasi dari Allah. Dalam syair lagu Tuhan, yang dinyanyikan grup Bimbo, antara lain disebutkan….. “Tuhan, Tuhan yang maha esa, tempat aku memuja……, aku jauh engkau jauh, aku dekat engkau dekat….dst”. Ternyata kedekatan dengan Tuhan itu tergantung pada kehendak Tuhan dan upaya manusia sendiri. Bagaimanapun, Tuhan itu selalu dekat dengan manusia, persoalannya ‘perasaan’ manusia atau hati yang seringkali mengabaikan kedekatan itu.

Untuk makin dekat dengan Allah, sebenarnya Allah telah memberikan software bagi manusia. Perangkat lunak yang menyertai perangkat kasar manusia tersebut, disampaikan Allah melalui perantaraan para Rasul. Setiap umat ada penyeru ke jalan Tuhan, ada Rasul yang mengajak dekat dengan Allah. Rasul terakhir, Muhammad SAW berbeda dengan rasul terdahulu, karena diutus untuk memberikan software bagi seluruh manusia sampai akhir jaman.

Software yang dibawah Nabi Muhammad SAW berupa Al Quran dan Assunah. Quran berisi 114 surat dan 6.666 ayat, merupakan umum kongkret bagi kehidupan manusia. Sedangkan Assunah atau Hadits adalah kumpulan perkataan dan tindakan Nabi Muhammad SAW untuk dicontoh umatnya. Dengan berbekal dua software yang sangat otentik tersebut, sebenarnya manusia bisa melakukan perjalanan untuk menuju Allah, Tuhan yang menciptakan dan memberinya kehidupan.

Allah berkehendak, supaya manusia dekat denganNya. Bagaimana cara-cara dekat dengan Allah tersebut, ternyata Allah maha pengasih, penyayang dan pemurah, maka diberikanNya panduan yang sangat jelas serta mudah diterapkan. Kalau dekat dengan Allah, maka kehidupan akan dijalani dengan nyaman, tenang, nikmat, dan berkah. Hari demi hari makin menyenangkan, makin bergairah, makin berbahagia. Bahkan setiap saat sudah siap mudik. Kapanpun dipanggil kehadiratNya sudah siap menyongsong, karena begitu rindu kepada Allah sang kekasih. Kapanpun kekasih memanggil, maka yang terkasih akan segera menjumpaiNya.

Namun kehidupan di dunia seringkali membuat jarak dengan Allah, bahkan ada yang makin jauh dan makin jauh, akhirnya terasing dengan Allah. Aku berlindung kepada Allah dari hal yang demikian. Ya, Allah aku sangat merindukanMu, aku ingin berfokus hanya kepada Engkau. Tidak ada daya dan upaya, kecuali atas pertolonganMu. Tolonglah aku ya Allah, supaya tetap dijalanMu, yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat, bukan jalan yang Engkau murkai dan bukan pula jalan orang yang sesat. (Atep Afia)

Sumber Gambar :
http://positiveinfo.files.wordpress.com/2008/02/sujud-01.jpg
http://www1.istockphoto.com/file_thumbview_approve/86346/2/istockphoto_86346_sujud.jpg

Minggu, 18 Januari 2009

PERSEPSI DALAM KEHIDUPAN

Persepsi adalah bagian dari hidup. Persepsi adalah upaya pendekatan dan pemahaman terhadap apa yang akan, sedang dan sudah terjadi dalam kehidupan. Dengan demikian, tidak semua yang terjadi dalam kehidupan bisa dikonversikan ke dalam persepsi. Begitu pula apa yang terjadi dalam kehidupan tidak selalu dipersespsikan secara tepat. Bahkan seringkali orang seringkali salah atau keliru dalam merespons kehidupan, itulah kesalahan persepsi.

Di antara manusia terjadi interaksi dengan kualitas dan frekuensi yang beragam. Setiap orang menetapkan citra atau reputasi orang-orang di sekitarnya. Citra dan reputasi itu terbentuk berdasarkan persepsi terhadap sikap dan omongan orang lain. Orang dengan reputasi jujur terbentuk karena persepsi orang di sekitarnya menilai demikian. Kesalahan persepsi bisa terjadi karena adanya komunikasi yang tidak utuh, tidak saling memahami, atau adanya jarak psikologis yang lebar. Makin intensif interaksi antar orang, maka kesalahan persepsi yang terjadi akan semakin kecil.

Persepsi dipengaruhi oleh pengalaman, pengetahuan atau informasi, dan perasaan. Misalnya jika anda memberikan persepsi menyenangkan terhadap seseorang, maka hal tersebut bisa bersumber dari pengalaman bergaul, informasi dari mulut ke mulut mengenai orang itu, serta perasaan yang muncul seketika. Begitu pula persepsi anda terhadap suatu kejadian yang menimpa, baik menyenangkan atau menyedihkan, tentu sangat tergantung pada pengalaman selama ini, apakah sebelumnya pernah mengalami kejadian serupa atau baru pertama kali. Kemudian faktor pengetahuan yang anda kuasai, misalnya pemahaman anda tentang Tuhan dan kehendakNya. Selain itu, faktor perasaan pada saat itu, apakah ‘rasa’ ber-Tuhan cukup dominan atau begitu tipis. Bagaimanapun ber-Tuhan itu harus melalui pikiran, perasaan, ucapan dan tindakan. Dengan kata lain, persepsi sangat dipengaruhi oleh tingkap keimanan seseorang kepada Tuhan, selaku Sang Pencipta dirinya dan seluruh alam semesta.

Menurut Dr Ibrahim Elfiky (2007), setiap manusia selalu menghadapi tantangan sulit dalam hidup. Reaksi yang timbul kadang frustrasi, penyesalan dan mengasihani diri sendiri. Pada masa-masa itu kita menganggap langit runtuh dan hidup pun berakhir. Lalu kita akhirnya memahami bahwa cobaan akan dapat menjadi berkah nantinya. Itulah perubahan persepsi kea rah yang lebih baik.

Persepsi itu muncul setiap saat, apapun yang terdeteksi oleh
Panca indra selalu dipersepsikan. Untuk memperoleh akurasi persepsi maka langkah yang terbaik ialah melihat dunia dan kehidupan melalui ‘kaca mata Sang Pencipta’. Allah SWT, Tuhan pencipta alam semesta sudah memberikan ‘panduan berpersepsi’ bagi manusia, yaitu berupa kumpulan ayat-ayat dalam kitab suci Al Quran. Coba melakukan persepsi dengan referensi software yang diterbitkan Allah SWT tersebut, niscaya kehidupan akan dijalani dengan tingkat akurasi dan prestasi yang tinggi. Selain Al Quran, ada juga As sunah atau Hadits Nabi berupa panduan pelengkap dari Al Quran.

Sulit dibayangkan jika hidup dijalani dengan akurasi persepsi yang rendah, maka penderitaan demi penderitaan akan selalu terjadi, baik di dunia ini apalagi di alam akherat. Dengan demikian, tidak ada pilihan lain, maknai kehidupan dan dunia ini dengan persepsi yang akurat, kalau mampu bisa mendekati seratus persen. Itulah kehidupan yang sesungguhnya, yang sesuai dengan panduan Sang Pencipta dan Pemberi Hidup. (Atep Afia)